Selasa, 25 Oktober 2016

BAB II DALAM PENELITIAN TINDAKAN KELAS (KAJIAN PUSTAKA)

Diambil dari Skripsi Siti Rohana (2016) Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Malang. Skripsi ini merupakan jenis PTK terbaik yang memaparkan data sesuai nafas kualitatif. 

PENERAPAN MODEL QUANTUM TEACHING PADA PEMBELAJARAN PKN UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV SDN PUNGGING PASURUAN


BAB II
KAJIAN PUSTAKA



A. Model Quantum Teaching


1. Model Pembelajaran

Joice dan Weil (dalam Rusman, 2010) menyatakan “model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain”. Model pembelajaran merupakan pola umum tindakan memfasilitasi terjadinya perubahan kompetensi individu atau tingkah laku di berbagai bidang yang diinginkan sesuai tujuan pembelajaran (Tumardi dan Sopingi, 2013:54). Dari pendapat di atas dapat disimpulkan model pembelajaran merupakan suatu pola umum yang direncanakan untuk merancang pembelajaran, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Dalam suatu pembelajaran perlu ada model pembelajaran yang menjadi acuan dalam menyampaikan materi pembelajaran. Model pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih guru dalam menjalankan fungsinya untuk mencapai tujuan pembelajaran. Ada berbagai macam model pembelajaran. Perlu diperhatikan dalam menentukan model yang akan digunakan pada saat pembelajaran. Guru harus memilih model pembelajaran yang cocok dengan materi pembelajaran. Hendaknya model yang dipilih disesuaikan juga dengan alokasi waktu dan karakteristik siswa.
2. Pengertian Model Quantum Teaching

Dalam penelitian ini model pembelajaran yang digunakan adalah model  Quantum Teaching. Pengertian Quantum Teaching Quantum Teaching adalah penggubahan berbagai interaksi dalam pembelajaran (DePorter, 2010:34). Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang nantinya akan mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar. Interaksi yang dimaksudkan meliputi interaksi guru dengan siswa dan interaksi siswa dengan siswa.
Menurut Hamid (2011:99) Quantum Teaching merupakan model yang mengubah suasana belajar yang membosankan ke dalam kondisi belajar yang meriah dan menyenangkan. Quantum Teaching menjadikan mengajar dan belajar menjadi menyenangkan dan membantu guru menampilkan materi pembelajaran yang menarik serta memberdayakan siswa. Lingkungan yang menyenangkan akan lebih memikat perhatian siswa, sehingga materi pembelajaran yang disampaikan guru akan mudah dimengerti oleh siswa.
Menurut Silberman (dalam Sarjuli, 2009) belajar harusnya mengasyikkan dan berlangsung dalam suasana gembira, sehingga pintu masuk untuk informasi baru akan lebih lebar dan terekam dengan baik. Engkoswara (1984:3) menyatakan siswa akan lebih mudah belajar pada suasana yang ramai. Membangun lingkungan dengan suasana yang menyenangkan bisa dengan cara menyisipkan humor kecil saat guru menjelaskan, mengajak siswa bernyanyi bersama, atau juga bisa dengan memberi sentuhan musik lagu anak-anak ketika siswa mengerjakan tugas.
Berdasarkan pendapat di atas, definisi yang digunakan dalam penelitian ini model pembelajaran Quantum Teaching merupakan model pembelajaran yang mengubah bermacam-macam interaksi dalam suatu lingkungan belajar, sehingga menjadi meriah dan menyenangkan. Jika tercipta interaksi yang menyenangkan antara guru dengan siswa dan interaksi antara siswa dengan siswa, maka materi yang dipelajari akan semakin mudah dipahami oleh siswa.


3. Asas Model Pembelajaran Quantum Teaching

Dalam Quantum Teaching bersandar pada asas “Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka” (DePorter, 2010:34). Pentingnya guru memasuki dunia siswa sebagai langkah awal, karena belajar melibatkan semua aspek yang ada dalam diri manusia. Tindakan ini akan membuat siswa memberikan ijin kepada guru untuk memimpin, menuntun, dan memudahkan perjalanan siswa menuju ke pengetahuan yang lebih luas.
Untuk memasuki dunia siswa, guru bisa mengaitkan peristiwa yang sering ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari dengan materi pembelajaran yang akan diajarkan. Setelah kaitan itu terbentuk, guru dapat membawa siswa dalam dunia guru yaitu ilmu pengetahuan yang lebih luas. Siswa diharapkan dapat mengaitkan pengetahuan yang telah dipelajari siswa dengan hal-hal dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, siswa dapat menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.


4. Kerangka Rancangan Model Pembelajaran Quantum Teaching
Dalam model pembelajaran Quantum Teaching terdapat ciri khas yaitu menggunakan kerangka rancangan TANDUR yaitu: a) tumbuhkan, b) alami, c) namai, d) demonstrasikan, e) ulangi, dan f) rayakan (DePorter, 2010:127-136). Berikut ini uraian penjelasan mengenai 6 kerangka rancangan TANDUR.
Tumbuhkan minat pada siswa di awal pembelajaran dengan menjawab apakah manfaatnya bagiku yang biasanya disingkat AMBAK. Manfaat yang dimaksudkan adalah manfaat yang diperoleh siswa setelah ia mempelajari sesuatu. Semakin banyak manfaat yang akan diperoleh, siswa akan semakin bersemangat mempelajari sesuatu. Sebaliknya jika siswa merasa materi itu tidak bermanfaat maka, ia akan malas untuk mempelajarinya. Selain itu, guru bisa menumbuhkan minat pada siswa dengan memasuki dunia siswa (DePorter, 2010:35). Untuk memasuki dunia siswa, guru bisa mengaitkan peristiwa yang sering ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari dengan materi pembelajaran yang akan diajarkan. Strategi yang bisa digunakan antara lain: pertanyaan, pantomim, lakon pendek dan lucu, drama, video dan cerita.
Pengalaman belajar secara langsung dapat membuat pembelajaran lebih bermakna. Guru memfasilitasi agar siswa dapat mengalami secara nyata pengetahuan yang dipelajari, sehingga pengetahuan tidak perlu dihafalkan. Siswa mengalami pengetahuannya melalui pemanfaatan pengetahuan yang telah dimiliki siswa dalam permainan atau kegiatan yang menyenangkan (DePorter, 2010:130). Guru bisa mengemas pengetahuan dengan sentuhan permainan atau simulasi sehingga, siswa akan mengingat pengetahuan sebagai pengalaman yang menyenangkan. Kegiatan permainan atau simulasi dapat mengaktifkan pengetahuan yang dimiliki siswa dan memberikan pengalaman nyata.
Pengalaman dapat membangun keingintahuan siswa, menciptakan pertanyaan “Mengapa bisa demikian?” Siswa akan menjadi penasaran, di saat seperti ini guru memberikan penamaan. Penamaan merupakan kata kunci, konsep, informasi, fakta, rumus, pemikiran, atau tempat. Strategi yang dapat digunakan antara lain: susunan gambar, warna, alat bantu bisa berupa media, kertas tulis, bagan dan poster (DePorter, 2010:131).
Guru hendaknya memberi siswa peluang untuk menerjemahkan dan menerapkan pengetahuan siswa pada kehidupan sehari-hari. Saat di kelas guru memfasilitasi siswa untuk mendemonstrasikan pengetahuan yang baru ia dapat. Misalnya melalui sandiwara, video, permainan, lagu dan penjabaran dalam grafik DePorter (2010:132).  Setelah itu perlu adanya pengulangan, karena pengulangan memperkuat koneksi saraf dan menumbuhkan rasa “Aku tahu, bahwa aku tahu ini!” Pengulangan dapat dikemas dalam bentuk permainan, teka-teki dan bermain peran.
Di akhir pembelajaran perlu adanya perayaan sebagai wujud pengakuan untuk siswa atas penyelesaian, partisipasi, pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan yang telah didapat oleh siswa. Perayaan memberi siswa rasa dihargai atas usaha, ketekunan dan keberhasilan saat pembelajaran berlangsung (DePorter, 2010:136). Perayaan tidak perlu mewah atau mahal. Guru bisa memuji siswa, bernyanyi bersama, memberi permen, gambar bintang atau stiker.


5. Kelebihan Model Pembelajaran Quantum Teaching

Model pembelajaran Quantum Teaching mempunyai beberapa kelebihan yaitu: a) siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan, dan dapat mencoba melakukannya sendiri, b) model pembelajaran Quantum Teaching membutuhkan kreativitas dari seorang guru untuk merangsang keinginan siswa untuk belajar, sehingga secara tidak langsung guru terbiasa untuk berpikir kreatif setiap harinya, c) pembelajaran Quantum Teaching memusatkan perhatian pada pembentukan keterampilan akademis dan keterampilan dalam kehidupan, dan d) pembelajaran Quantum Teaching mengutamakan keberagaman dan kebebasan, bukan keseragaman.
Dalam pembelajaran siswa lebih banyak melakukan aktivitas belajar, sehingga siswa dapat mencoba melakukan sendiri dan ikut berpikir untuk menyesuaikan antara teori dengan kenyataan. Untuk itu membutuhkan guru yang kreatif dan mengutamakan keberagaman. Agar siswa juga lebih bebas berkreasi dalam belajar. Pembelajaran Quantum Teaching memusatkan perhatian pada pembentukan keterampilan akademis dan keterampilan dalam kehidupan. Keterampilan akademis merupakan kemampuan kognitif yang dimiliki siswa, sedangkan keterampilan dalam kehidupan merupakan kemampuan untuk berinteraksi dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.


6. Kelemahan Model Pembelajaran Quantum Teaching

Model pembelajaran Quantum Teaching mempunyai beberapa kelemahan yaitu: a) model ini memerlukan kesiapan dan perencanaan yang memerlukan waktu yang cukup lama, b) fasilitas seperti peralatan, tempat dan biaya yang memadai tidak selalu tercukupi, c) karena dalam metode ini ada perayaan untuk menghormati usaha siswa baik berupa tepuk tangan, musik, jentikan jari dan nyanyian. Jika tidak bisa memilih perayaan yang sesuai lingkungan, maka dapat mengganggu kelas lain, d) belajar dengan model pembelajaran ini akan diperlukan ketelitian dan kesabaran, namun terkadang ketelitian dan kesabaran itu diabaikan, sehingga apa yang diharapkan tidak tercapai sebagaimana mestinya.
Untuk menerapkan model Quantum Teaching memerlukan persiapan dan perencanaan yang cukup lama. Hal itu dikarenakan perlu adanya komponen pendukung belajar yang lebih lengkap misalnya, media pembelajaran dan media untuk merayakan keberhasilan siswa. Dalam pembelajaran ini diharapkan guru lebih meningkatkan ketelitian dan kesabaran dalam menghadapi keberagaman siswa, sehingga siswa menikmati aktivitas belajarnya dan tujuan pembelajaran bisa tercapai.


B. Pembelajaran Pkn


1. Pembelajaran

Sekolah merupakan wahana belajar yang kompleks, karena belajar bisa dilakukan setiap saat. Belajar merupakan usaha seseorang untuk mencapai perubahan baru ke arah yang lebih baik (Sutikno, 2013:4). Belajar akan terjadi pada siswa ketika ia memperoleh pengalaman belajar dari pembelajaran yang diikuti. Pembelajaran merupakan segala upaya yang dilakukan pembelajar untuk memfasilitasi terjadinya belajar pada diri pebelajar (Tumardi dan Sopingi, 2013:53). Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan semua upaya yang dirancang oleh guru untuk memfasilitasi siswa agar terjadi kegiatan belajar.


2. Pembelajaran PKn di SD

Pada jenjang sekolah dasar, PKn merupakan salah satu mata pelajaran yang dibelajarkan oleh guru. Pembelajaran PKn diharapkan dapat membentuk siswa yang cinta tanah air, cerdas, terampil, kreatif dan mampu menjadi warga negara yang baik dengan melaksanakan hak dan kewajiban sebagai warga negara RI.


a. Tujuan Pembelajaran PKn

Dalam Depdiknas (2006) tujuan dari pembelajaran PKn di SD yaitu: (a) siswa mampu berpikir kritis, (b) siswa mampu berpartisipasi aktif dan bertanggungjawab dalam masyarakat, (c) siswa mampu berkembang ke arah positif dan demokratis, dan (d) siswa mampu berinteraksi dengan bangsa lain.
Siswa mampu berpikir kritis dalam menanggapi isu atau permasalahan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga siswa dituntun untuk berpikir rasional dan kreatif. Selain itu, siswa juga mampu berpatisipasi secara aktif, cerdas dan bertanggungjawab dalam kegiatan bermasyarakat. Siswa mampu menghindari korupsi sekecil apapun sejak dini, sehingga akan terbiasa ketika ia dewasa nanti.
Siswa diharapkan mampu berkembang secara positif untuk membentuk diri menjadi generasi yang berkarakter. Siswa juga mampu bersikap demokrasi dan cinta tanah air serta mampu berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

b. Ruang Lingkup Pembelajaran PKn SD

Menurut Ruminiati (2007:1.26) ruang lingkup mata pelajaran PKn di SD yaitu: (a) persatuan dan kesatuan bangsa, (b) norma, hukum dan peraturan, (c) hak asasi manusia, (d) kebutuhan warga negara, (e) konstitusi negara, (f) kekuasaan dan politik, (g) pancasila, dan (h) Globalisasi. Untuk kelas IV SD ruang lingkup mata pelajaran PKn yaitu tentang kekuasaan politik dan globalisasi. Untuk lebih jelasnya berikut ini Tabel 2.1 dan Tabel 2.2 berisi standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran PKn di kelas IV.


Tabel 2.1 SK dan KD Mata Pelajaran PKn di kelas IV, Semester 1

Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
1. Memahami sistem
pemerintahan desa dan pemerintah kecamatan
1.1 Mengenal lembaga-lembaga dalam susunan pemerintahan desa dan pemerintah kecamatan
1.2 Menggambarkan struktur organisasi desa dan pemerintah kecamatan
2. Memahami sistem
pemerintahan
kabupaten, kota, dan
provinsi
2.1 Mengenal lembaga-lembaga dalam susunan pemerintahan kabupaten, kota, dan provinsi
2.2 Menggambarkan struktur organisasi kabupaten, kota, dan provinsi



Tabel 2.2 SK dan KD Mata Pelajaran PKn di kelas IV, Semester 2

Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
3. Mengenal sistem
pemerintahan tingkat
pusat
3.1 Mengenal lembaga-lembaga negara dalam susunan
pemerintahan tingkat pusat, seperti MPR, DPR, Presiden, MA, MK dan BPK dll.
3.2 Menyebutkan organisasi pemerintahan tingkat
pusat, seperti Presiden, Wakil Presiden dan para Menteri
4. Menunjukkan sikap
terhadap globalisasi di
lingkungannya
4.1 Memberikan contoh sederhana pengaruh globalisasi di lingkungannya
4.2 Mengidentifikasi jenis budaya Indonesia yang pernah ditampilkan dalam misi kebudayaan
internasional
4.3 Menentukan sikap terhadap pengaruh globalisasi yang terjadi di lingkungannya
Sumber: Depdiknas (2006)
Keterbatasan dalam penelitian ini terletak pada Standar Kompetensi (SK) 3. Mengenal sistem pemerintahan tingkat pusat, Kompetensi Dasar (KD) 3.2 Menyebutkan organisasi pemerintahan tingkat pusat, seperti Presiden, Wakil Presiden dan para Menteri. Indikatornya yaitu: (a) menuliskan tugas Presiden, (b) menuliskan tugas Wakil Presiden, (c) membuat bagan organisasi pemerintahan pusat, (d) menuliskan nama Presiden Republik Indonesia, (e) menuliskan menteri dalam pemerintahan pusat, (f) menuliskan menteri koordinator, (g) menuliskan menteri departemen, (h) menuliskan menteri negara, dan (i) membuat bagan kabinet kerja Joko Widodo-Jusuf Kalla.


C. Aktivitas Belajar

Di dalam belajar perlu adanya aktivitas belajar, karena belajar akan lebih bermakna apabila diiringi dengan melakukan. Prinsip belajar yaitu “Learning by doing” (Sardiman, 2011:95). Oleh karena itu dalam belajar, aktivitas merupakan syarat yang sangat penting dalam kegiatan belajar. Menurut Rousseau (dalam Sardiman, 2007:96) dalam kegiatan belajar, “...segala pengetahuan itu harus diperoleh dengan pengamatan sendiri, pengalaman sendiri...”. Jika belajar tanpa diiringi dengan melakukan aktivitas, maka kegiatan belajar akan kurang bermakna. Siswa akan pasif dan guru akan menjadi pemberi pengetahuan. Padahal seharusnya guru hanya menjadi fasilitator dalam pembelajaran. Siswa yang belajar, jadi dalam pembelajaran perlu adanya aktivitas siswa. Aktivitas menjadi syarat mutlak bagi berlangsungnya kegiatan pembelajaran.

1. Pengertian Aktivitas Belajar
Aktivitas dapat diartikan keaktifan; kegiatan; kesibukan (KBBI, 1990). Sardiman (2007:100) menyatakan bahwa aktivitas belajar merupakan aktivitas ketika pembelajaran berlangsung baik yang bersifat fisik maupun mental. Dalam pembelajaran kedua aktivitas itu saling berkaitan. Piaget (dalam Sardiman, 2007:101) menyatakan bahwa siswa itu berpikir sepanjang ia berbuat. Guru harus memberi kesempatan siswa untuk mengalami sendiri agar siswa dapat berlatih berpikir sendiri.
Berdasarkan pengertian tersebut, dapat dinyatakan bahwa aktivitas belajar merupakan kegiatan atau sesuatu yang dilakukan oleh siswa selama pembelajaran yang bersifat fisik. Ada banyak jenis aktivitas dalam belajar, namun yang digunakan dalam penelitian ini berbatas pada jenis-jenis aktivitas belajar yang diuraikan berikut.




2. Jenis-jenis Aktivitas Belajar

Aktivitas belajar siswa tidak hanya melihat, mendengarkan dan mencatat saja seperti yang umumnya dijumpai di sekolah-sekolah tradisional. Paul B. Diedrich menemukan 177 macam kegiatan siswa (dalam Sardiman, 2007:101), yang kemudian aktivitas tersebut digolongkan menjadi 8 aktivitas yaitu: a) visual activities, b) oral activities, c) Listening activities, d) writing activities, e) drawing activities, f) motor activities, g) mental activities, dan h) emotional activities.
Visual activities dalam bahasa Indonesia dapat diartikan aktivitas yang menggunakan indera penglihatan. Beberapa contoh aktivitas yang termasuk jenis ini antara lain: membaca, memperhatikan gambar demonstrasi, memperhatikan percobaan dan melihat peta bagan.
Oral activities dalam bahasa Indonesia dapat diartikan aktivitas berbicara. Beberapa contoh aktivitas yang termasuk jenis ini antara lain: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat dan berdiskusi.
Listening activities dalam bahasa Indonesia dapat diartikan aktivitas mendengarkan. Beberapa contoh aktivitas yang termasuk jenis ini antara lain: mendengarkan penjelasan, mendengarkan pidato, mendengarkan puisi dan mendengarkan cerita.
Writing activities dalam bahasa Indonesia dapat diartikan aktivitas menulis. Beberapa contoh aktivitas yang termasuk jenis ini antara lain: menulis cerita, menulis karangan, menulis laporan, menulis angket dan menulis puisi.
Drawing activities dalam bahasa Indonesia dapat diartikan aktivitas menggambar. Beberapa contoh aktivitas yang termasuk jenis ini antara lain: menggambar peta, menggambar grafik, menggambar diagram dan menggambar peta konsep.
Motor activities dalam bahasa Indonesia dapat diartikan aktivitas motorik. Beberapa contoh aktivitas yang termasuk jenis ini antara lain: melakukan percobaan, membuat konstruksi dan bermain.
Mental activities dalam bahasa Indonesia dapat diartikan aktivitas mental/rohani. Beberapa contoh aktivitas yang termasuk jenis ini antara lain: menganalisis, mengingat dan memecahkan soal.
Emotional activities dalam bahasa Indonesia dapat diartikan aktivitas yang menggunakan emosi. Beberapa contoh aktivitas yang termasuk jenis ini antara lain: merasa bosan, gembira, bersemangat, berani, tenang dan gugup.
Pada penelitian ini jenis aktivitas belajar yang digunakan merupakan aktivitas yang sesuai dengan kerangka TANDUR dalam model Quantum Teaching yaitu: a) oral activities, b) motor activities dan c) writing activities. Untuk lebih jelas perhatikan Tabel 2.3 berikut.


Tabel 2.3  Jenis aktivitas belajar olahan peneliti, 2016.
No.
Aktivitas Belajar
Termasuk Jenis Aktivitas
1
Menjawab pertanyaan (T)
Oral activities
2
Melakukan permainan (A)
Motor activities
3
Membuat bagan (N)
Writing activities
4
Menyanyikan lagu (D)
Oral activities
5
Mengerjakan teka-teki silang (U)
Writing activities
6
Mendapat bintang prestasi (R)
Motor activities
Sumber: Jenis aktivitas belajar olahan peneliti, 2016.
D. Hasil Belajar

Menurut Sudjana (2012:22) hasil belajar merupakan kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar. Menurut Dimyati (2006:18) menyatakan bahwa hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh siswa dari pengalaman atau latihan-latihan yang diikuti selama pembelajaran yang berupa kognitif, afektif dan psikomotor.
Dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan kemampuan meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor yang diperoleh siswa setelah ia menerima latihan dan pengalaman belajar. Untuk mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran perlu diadakan evaluasi. Evaluasi merupakan proses penilaian dengan menggunakan kriteria tertentu untuk mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran.
Hasil evaluasi berfungsi untuk mengetahui hasil belajar siswa yang dapat digunakan sebagai acuan untuk perencanaan pembelajaran selanjutnya, dan menetapkan model pembelajaran selanjutnya. Selain itu hasil evaluasi ini dapat digunakan untuk memperbaiki serangkaian pembelajaran. Hasil belajar bisa ditingkatkan dengan berbagai macam cara atau usaha-usaha guru yang maksimal. Salah satunya dengan pemilihan model yang sesuai dengan karakteristik siswa dan pembelajaran.
Dalam penelitian ini, hasil belajar siswa dilihat dari aspek kognitif. Dengan mengukur kemampuan kognitif siswa, sudah diangggap bisa menggambarkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran PKn materi organisasi pemerintahan pusat.
E. Penerapan Model Quantum Teaching pada Pembelajaran PKn untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa

Pada pembelajaran PKn akan diterapkan model Quantum Teaching dengan menggunakan kerangka TANDUR sebagai langkah-langkah dalam pembelajaran. Pada siklus I, langkah yang pertama T = tumbuhkan diterapkan melalui pemberian pertanyaan “Siapa yang ingin menjadi Presiden?” Langkah kedua A = alami diterapkan melalui permainan kartu tugas pada materi tugas Presiden dan tugas Wakil Presiden. Langkah ketiga N = namai diterapkan melalui bagan organisasi pemerintahan pusat. Langkah keempat D = demonstrasi diterapkan dengan menyanyikan lagu Nama Presiden RI. Langkah kelima U = ulangi diterapkan melalui teka-teki silang untuk mengulangi pembelajaran PKn tentang tugas Presiden dan tugas Wakil Presiden. Langkah keenam R = rayakan diterapkan melalui pemberian bintang prestasi pada siswa yang aktif selama pembelajaran PKn.
Pada siklus II, langkah yang pertama T = tumbuhkan diterapkan melalui pemberian pertanyaan “Siapa yang ingin menjadi Menteri?” Langkah kedua A = alami diterapkan melalui permainan kartu menteri pada materi pengelompokkan menteri. Langkah ketiga N = namai diterapkan pada materi bagan kabinet kerja Joko Widodo-Jusuf Kalla. Langkah keempat D = demonstrasi diterapkan melalui permainan tepuk menteri. Langkah kelima U = ulangi diterapkan melalui teka-teki silang untuk mengulangi pembelajaran PKn tentang menteri dan kabinet kerja Joko Widodo-Jusuf Kalla. Langkah keenam R = rayakan diterapkan melalui pemberian bintang prestasi pada siswa yang aktif selama pembelajaran PKn.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar