Diambil dari Skripsi Siti Rohana (2016) Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Malang. Skripsi ini merupakan jenis PTK terbaik yang memaparkan data sesuai nafas kualitatif.
PENERAPAN MODEL QUANTUM TEACHING PADA PEMBELAJARAN PKN UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV SDN PUNGGING PASURUAN
BAB II
PENERAPAN MODEL QUANTUM TEACHING PADA PEMBELAJARAN PKN UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV SDN PUNGGING PASURUAN
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Model Quantum Teaching
1. Model
Pembelajaran
Joice dan Weil (dalam Rusman, 2010)
menyatakan “model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat
digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang),
merancang bahan-bahan pembelajaran dan membimbing pembelajaran di kelas atau
yang lain”. Model pembelajaran merupakan pola umum tindakan memfasilitasi terjadinya
perubahan kompetensi individu atau tingkah laku di berbagai bidang yang
diinginkan sesuai tujuan pembelajaran (Tumardi dan Sopingi, 2013:54). Dari
pendapat di atas dapat disimpulkan model pembelajaran merupakan suatu pola umum
yang direncanakan untuk merancang pembelajaran, sehingga tujuan pembelajaran
dapat tercapai.
Dalam suatu pembelajaran perlu ada model
pembelajaran yang menjadi acuan dalam menyampaikan materi pembelajaran. Model
pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih guru dalam menjalankan fungsinya
untuk mencapai tujuan pembelajaran. Ada berbagai macam model pembelajaran.
Perlu diperhatikan dalam menentukan model yang akan digunakan pada saat
pembelajaran. Guru harus memilih model pembelajaran yang cocok dengan materi
pembelajaran. Hendaknya model yang dipilih disesuaikan juga dengan alokasi
waktu dan karakteristik siswa.
2. Pengertian
Model Quantum Teaching
Dalam penelitian ini model pembelajaran
yang digunakan adalah model Quantum Teaching. Pengertian Quantum Teaching Quantum Teaching adalah
penggubahan berbagai interaksi dalam pembelajaran (DePorter, 2010:34). Interaksi-interaksi
ini mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang nantinya akan mempengaruhi
keberhasilan siswa dalam belajar. Interaksi yang dimaksudkan meliputi interaksi
guru dengan siswa dan interaksi siswa dengan siswa.
Menurut Hamid (2011:99) Quantum Teaching merupakan model yang
mengubah suasana belajar yang membosankan ke dalam kondisi belajar yang meriah
dan menyenangkan. Quantum Teaching menjadikan
mengajar dan belajar menjadi menyenangkan dan membantu guru menampilkan materi
pembelajaran yang menarik serta memberdayakan siswa. Lingkungan yang
menyenangkan akan lebih memikat perhatian siswa, sehingga materi pembelajaran
yang disampaikan guru akan mudah dimengerti oleh siswa.
Menurut Silberman (dalam Sarjuli, 2009)
belajar harusnya mengasyikkan dan berlangsung dalam suasana gembira, sehingga
pintu masuk untuk informasi baru akan lebih lebar dan terekam dengan baik.
Engkoswara (1984:3) menyatakan siswa akan lebih mudah belajar pada suasana yang
ramai. Membangun lingkungan dengan suasana yang menyenangkan bisa dengan cara
menyisipkan humor kecil saat guru menjelaskan, mengajak siswa bernyanyi
bersama, atau juga bisa dengan memberi sentuhan musik lagu anak-anak ketika
siswa mengerjakan tugas.
Berdasarkan
pendapat di atas, definisi yang digunakan dalam penelitian ini model
pembelajaran Quantum Teaching merupakan
model pembelajaran yang mengubah bermacam-macam interaksi dalam suatu
lingkungan belajar, sehingga menjadi meriah dan menyenangkan. Jika tercipta
interaksi yang menyenangkan antara guru dengan siswa dan interaksi antara siswa
dengan siswa, maka materi yang dipelajari akan semakin mudah dipahami oleh
siswa.
3. Asas Model
Pembelajaran Quantum Teaching
Dalam
Quantum Teaching bersandar pada asas
“Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”
(DePorter, 2010:34). Pentingnya guru memasuki dunia siswa sebagai langkah awal,
karena belajar melibatkan semua aspek yang ada dalam diri manusia. Tindakan ini
akan membuat siswa memberikan ijin kepada guru untuk memimpin, menuntun, dan
memudahkan perjalanan siswa menuju ke pengetahuan yang lebih luas.
Untuk
memasuki dunia siswa, guru bisa mengaitkan peristiwa yang sering ditemui siswa
dalam kehidupan sehari-hari dengan materi pembelajaran yang akan diajarkan.
Setelah kaitan itu terbentuk, guru dapat membawa siswa dalam dunia guru yaitu
ilmu pengetahuan yang lebih luas. Siswa diharapkan dapat mengaitkan pengetahuan
yang telah dipelajari siswa dengan hal-hal dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya, siswa dapat menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan
sehari-hari.
4.
Kerangka Rancangan Model Pembelajaran Quantum
Teaching
Dalam model pembelajaran Quantum Teaching terdapat ciri khas
yaitu menggunakan kerangka rancangan TANDUR yaitu: a) tumbuhkan, b) alami, c) namai, d) demonstrasikan, e) ulangi, dan f) rayakan (DePorter, 2010:127-136).
Berikut ini uraian penjelasan mengenai 6 kerangka rancangan TANDUR.
Tumbuhkan minat pada siswa di awal pembelajaran dengan menjawab apakah manfaatnya bagiku yang biasanya disingkat AMBAK. Manfaat yang dimaksudkan adalah manfaat yang
diperoleh siswa setelah ia mempelajari sesuatu. Semakin banyak manfaat yang
akan diperoleh, siswa akan semakin bersemangat mempelajari sesuatu. Sebaliknya
jika siswa merasa materi itu tidak bermanfaat maka, ia akan malas untuk
mempelajarinya. Selain itu, guru bisa menumbuhkan minat pada siswa dengan
memasuki dunia siswa (DePorter, 2010:35). Untuk memasuki dunia siswa, guru bisa mengaitkan peristiwa yang
sering ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari dengan materi pembelajaran
yang akan diajarkan. Strategi yang
bisa digunakan antara lain: pertanyaan, pantomim, lakon pendek dan lucu, drama,
video dan cerita.
Pengalaman belajar secara
langsung dapat membuat pembelajaran lebih bermakna. Guru memfasilitasi agar
siswa dapat mengalami secara nyata pengetahuan yang dipelajari, sehingga
pengetahuan tidak perlu dihafalkan. Siswa mengalami pengetahuannya melalui
pemanfaatan pengetahuan yang telah dimiliki siswa dalam permainan atau kegiatan
yang menyenangkan (DePorter, 2010:130). Guru bisa mengemas pengetahuan dengan
sentuhan permainan atau simulasi sehingga, siswa akan mengingat pengetahuan
sebagai pengalaman yang menyenangkan. Kegiatan permainan atau simulasi dapat
mengaktifkan pengetahuan yang dimiliki siswa dan memberikan pengalaman nyata.
Pengalaman dapat membangun
keingintahuan siswa, menciptakan pertanyaan “Mengapa bisa demikian?” Siswa akan
menjadi penasaran, di saat seperti ini guru memberikan penamaan. Penamaan
merupakan kata kunci, konsep, informasi, fakta, rumus, pemikiran, atau tempat.
Strategi yang dapat digunakan antara lain: susunan gambar, warna, alat bantu
bisa berupa media, kertas tulis, bagan dan poster (DePorter, 2010:131).
Guru hendaknya memberi
siswa peluang untuk menerjemahkan dan menerapkan pengetahuan siswa pada
kehidupan sehari-hari. Saat di kelas guru memfasilitasi siswa untuk
mendemonstrasikan pengetahuan yang baru ia dapat. Misalnya melalui sandiwara,
video, permainan, lagu dan penjabaran dalam grafik DePorter (2010:132). Setelah itu perlu adanya pengulangan, karena
pengulangan memperkuat koneksi saraf dan menumbuhkan rasa “Aku tahu, bahwa aku
tahu ini!” Pengulangan dapat dikemas dalam bentuk permainan, teka-teki dan
bermain peran.
Di akhir pembelajaran
perlu adanya perayaan sebagai wujud pengakuan untuk siswa atas
penyelesaian, partisipasi, pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan yang telah didapat oleh siswa. Perayaan memberi
siswa rasa dihargai atas usaha, ketekunan dan keberhasilan saat pembelajaran
berlangsung (DePorter, 2010:136). Perayaan tidak perlu mewah atau mahal. Guru bisa
memuji siswa, bernyanyi bersama, memberi permen, gambar bintang atau stiker.
5. Kelebihan
Model Pembelajaran Quantum Teaching
Model pembelajaran Quantum Teaching mempunyai beberapa
kelebihan yaitu: a) siswa
dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan,
dan dapat mencoba melakukannya sendiri, b) model pembelajaran Quantum Teaching membutuhkan kreativitas
dari seorang guru untuk merangsang keinginan siswa untuk belajar, sehingga
secara tidak langsung guru terbiasa untuk berpikir kreatif setiap harinya, c) pembelajaran Quantum Teaching memusatkan perhatian pada pembentukan keterampilan akademis dan keterampilan
dalam kehidupan, dan d) pembelajaran Quantum Teaching mengutamakan keberagaman dan kebebasan, bukan keseragaman.
Dalam pembelajaran siswa
lebih banyak melakukan aktivitas belajar, sehingga siswa dapat mencoba
melakukan sendiri dan ikut berpikir untuk menyesuaikan antara teori dengan
kenyataan. Untuk itu membutuhkan guru yang kreatif dan mengutamakan
keberagaman. Agar siswa juga lebih bebas berkreasi dalam belajar. Pembelajaran
Quantum Teaching memusatkan perhatian pada
pembentukan keterampilan akademis dan keterampilan dalam kehidupan. Keterampilan akademis merupakan kemampuan
kognitif yang dimiliki siswa, sedangkan keterampilan dalam kehidupan merupakan
kemampuan untuk berinteraksi dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.
6. Kelemahan
Model Pembelajaran Quantum Teaching
Model pembelajaran Quantum Teaching mempunyai beberapa
kelemahan yaitu: a) model
ini memerlukan kesiapan dan perencanaan yang memerlukan waktu yang cukup lama,
b) fasilitas seperti peralatan, tempat dan biaya yang memadai tidak selalu
tercukupi, c)
karena dalam metode ini
ada perayaan untuk menghormati usaha siswa baik berupa tepuk tangan, musik, jentikan jari dan nyanyian. Jika
tidak bisa memilih perayaan yang sesuai lingkungan, maka dapat mengganggu kelas
lain, d) belajar dengan model pembelajaran
ini akan diperlukan ketelitian dan kesabaran,
namun terkadang ketelitian dan kesabaran itu diabaikan, sehingga apa yang
diharapkan tidak tercapai sebagaimana mestinya.
Untuk menerapkan model Quantum Teaching memerlukan persiapan
dan perencanaan yang cukup lama. Hal itu dikarenakan perlu adanya komponen
pendukung belajar yang lebih lengkap misalnya, media pembelajaran dan media
untuk merayakan keberhasilan siswa. Dalam pembelajaran ini diharapkan guru
lebih meningkatkan ketelitian dan kesabaran dalam menghadapi keberagaman siswa,
sehingga siswa menikmati aktivitas belajarnya dan tujuan pembelajaran bisa
tercapai.
B.
Pembelajaran Pkn
1.
Pembelajaran
Sekolah merupakan wahana
belajar yang kompleks, karena belajar bisa dilakukan setiap saat. Belajar
merupakan usaha seseorang untuk mencapai perubahan baru ke arah yang lebih baik
(Sutikno, 2013:4). Belajar akan terjadi pada siswa ketika ia memperoleh
pengalaman belajar dari pembelajaran yang diikuti. Pembelajaran
merupakan segala upaya yang dilakukan pembelajar untuk memfasilitasi terjadinya
belajar pada diri pebelajar (Tumardi dan Sopingi, 2013:53). Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran merupakan semua upaya yang dirancang oleh guru untuk memfasilitasi
siswa agar terjadi kegiatan belajar.
2.
Pembelajaran PKn di SD
Pada jenjang sekolah
dasar, PKn merupakan salah satu mata pelajaran yang dibelajarkan oleh guru.
Pembelajaran PKn diharapkan dapat membentuk siswa yang cinta tanah air, cerdas,
terampil, kreatif dan mampu menjadi warga negara yang baik dengan melaksanakan
hak dan kewajiban sebagai warga negara RI.
a.
Tujuan Pembelajaran PKn
Dalam Depdiknas (2006)
tujuan dari pembelajaran PKn di SD yaitu: (a) siswa mampu berpikir kritis, (b)
siswa mampu berpartisipasi aktif dan bertanggungjawab dalam masyarakat, (c)
siswa mampu berkembang ke arah positif dan demokratis, dan (d) siswa mampu
berinteraksi dengan bangsa lain.
Siswa mampu berpikir
kritis dalam menanggapi isu atau permasalahan dalam kehidupan sehari-hari,
sehingga siswa dituntun untuk berpikir rasional dan kreatif. Selain itu, siswa
juga mampu berpatisipasi secara aktif, cerdas dan bertanggungjawab dalam
kegiatan bermasyarakat. Siswa mampu menghindari korupsi sekecil apapun sejak
dini, sehingga akan terbiasa ketika ia dewasa nanti.
Siswa diharapkan mampu
berkembang secara positif untuk membentuk diri menjadi generasi yang
berkarakter. Siswa juga mampu bersikap demokrasi dan cinta tanah air serta
mampu berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam
percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan
teknologi informasi dan komunikasi.
b. Ruang
Lingkup Pembelajaran PKn SD
Menurut Ruminiati
(2007:1.26) ruang lingkup mata pelajaran PKn di SD yaitu: (a) persatuan dan
kesatuan bangsa, (b) norma, hukum dan peraturan, (c) hak asasi manusia, (d)
kebutuhan warga negara, (e) konstitusi negara, (f) kekuasaan dan politik, (g)
pancasila, dan (h) Globalisasi. Untuk kelas IV SD ruang lingkup mata pelajaran
PKn yaitu tentang kekuasaan politik dan globalisasi. Untuk lebih jelasnya
berikut ini Tabel 2.1 dan Tabel 2.2 berisi standar kompetensi dan kompetensi
dasar mata pelajaran PKn di kelas IV.
Tabel
2.1 SK dan KD Mata Pelajaran PKn di kelas IV, Semester 1
Standar Kompetensi
|
Kompetensi Dasar
|
1. Memahami sistem
pemerintahan desa dan pemerintah
kecamatan
|
1.1 Mengenal lembaga-lembaga dalam
susunan pemerintahan desa dan pemerintah kecamatan
1.2 Menggambarkan struktur organisasi
desa dan pemerintah kecamatan
|
2. Memahami sistem
pemerintahan
kabupaten, kota, dan
provinsi
|
2.1 Mengenal lembaga-lembaga dalam
susunan pemerintahan kabupaten, kota, dan provinsi
2.2 Menggambarkan struktur organisasi
kabupaten, kota, dan provinsi
|
Tabel
2.2 SK dan KD Mata Pelajaran PKn di kelas IV, Semester 2
Standar Kompetensi
|
Kompetensi Dasar
|
3. Mengenal sistem
pemerintahan tingkat
pusat
|
3.1 Mengenal lembaga-lembaga negara dalam
susunan
pemerintahan tingkat pusat, seperti MPR,
DPR, Presiden, MA, MK dan BPK dll.
3.2 Menyebutkan organisasi pemerintahan
tingkat
pusat, seperti Presiden, Wakil Presiden dan para Menteri
|
4. Menunjukkan sikap
terhadap globalisasi di
lingkungannya
|
4.1 Memberikan contoh sederhana pengaruh
globalisasi di lingkungannya
4.2 Mengidentifikasi jenis budaya
Indonesia yang pernah ditampilkan dalam misi kebudayaan
internasional
4.3 Menentukan sikap terhadap pengaruh
globalisasi yang terjadi di lingkungannya
|
Sumber:
Depdiknas (2006)
Keterbatasan dalam penelitian ini terletak
pada Standar Kompetensi (SK) 3. Mengenal sistem pemerintahan tingkat pusat,
Kompetensi Dasar (KD) 3.2 Menyebutkan organisasi pemerintahan tingkat pusat,
seperti Presiden, Wakil Presiden dan para Menteri. Indikatornya yaitu: (a)
menuliskan tugas Presiden, (b) menuliskan tugas Wakil Presiden, (c) membuat
bagan organisasi pemerintahan pusat, (d) menuliskan nama Presiden Republik
Indonesia, (e) menuliskan menteri dalam pemerintahan pusat, (f) menuliskan
menteri koordinator, (g) menuliskan menteri departemen, (h) menuliskan menteri
negara, dan (i) membuat bagan kabinet kerja Joko Widodo-Jusuf Kalla.
C. Aktivitas
Belajar
Di
dalam belajar perlu adanya aktivitas belajar, karena belajar akan lebih
bermakna apabila diiringi dengan melakukan. Prinsip belajar yaitu “Learning by doing” (Sardiman, 2011:95).
Oleh karena itu dalam belajar, aktivitas merupakan syarat yang sangat penting
dalam kegiatan belajar. Menurut Rousseau (dalam Sardiman, 2007:96) dalam
kegiatan belajar, “...segala pengetahuan itu harus diperoleh dengan pengamatan
sendiri, pengalaman sendiri...”. Jika belajar tanpa diiringi dengan melakukan
aktivitas, maka kegiatan belajar akan kurang bermakna. Siswa akan pasif dan
guru akan menjadi pemberi pengetahuan. Padahal seharusnya guru hanya menjadi
fasilitator dalam pembelajaran. Siswa yang belajar, jadi dalam pembelajaran
perlu adanya aktivitas siswa. Aktivitas menjadi syarat mutlak bagi berlangsungnya
kegiatan pembelajaran.
1.
Pengertian Aktivitas Belajar
Aktivitas dapat diartikan keaktifan;
kegiatan; kesibukan (KBBI, 1990). Sardiman (2007:100) menyatakan bahwa
aktivitas belajar merupakan aktivitas ketika pembelajaran berlangsung baik yang
bersifat fisik maupun mental. Dalam pembelajaran kedua aktivitas itu saling
berkaitan. Piaget (dalam Sardiman, 2007:101) menyatakan bahwa siswa itu
berpikir sepanjang ia berbuat. Guru harus memberi kesempatan siswa untuk
mengalami sendiri agar siswa dapat berlatih berpikir sendiri.
Berdasarkan pengertian tersebut, dapat
dinyatakan bahwa aktivitas belajar merupakan kegiatan atau sesuatu yang dilakukan
oleh siswa selama pembelajaran yang bersifat fisik. Ada banyak jenis aktivitas
dalam belajar, namun yang digunakan dalam penelitian ini berbatas pada
jenis-jenis aktivitas belajar yang diuraikan berikut.
2. Jenis-jenis
Aktivitas Belajar
Aktivitas
belajar siswa tidak hanya melihat, mendengarkan dan mencatat saja seperti yang
umumnya dijumpai di sekolah-sekolah tradisional. Paul B. Diedrich menemukan 177
macam kegiatan siswa (dalam Sardiman, 2007:101), yang kemudian aktivitas
tersebut digolongkan menjadi 8 aktivitas yaitu: a) visual activities, b) oral
activities, c) Listening activities, d)
writing activities, e) drawing activities, f) motor activities, g) mental activities, dan h) emotional activities.
Visual
activities dalam bahasa Indonesia dapat diartikan
aktivitas yang menggunakan indera penglihatan. Beberapa contoh aktivitas yang
termasuk jenis ini antara lain: membaca, memperhatikan gambar demonstrasi,
memperhatikan percobaan dan melihat peta bagan.
Oral
activities dalam bahasa Indonesia dapat diartikan aktivitas
berbicara. Beberapa contoh aktivitas yang termasuk jenis ini antara lain: menyatakan,
merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat dan berdiskusi.
Listening
activities dalam bahasa Indonesia dapat diartikan aktivitas
mendengarkan. Beberapa contoh aktivitas yang termasuk jenis ini antara lain: mendengarkan
penjelasan, mendengarkan pidato, mendengarkan puisi dan mendengarkan cerita.
Writing
activities dalam bahasa Indonesia dapat diartikan aktivitas
menulis. Beberapa contoh aktivitas yang termasuk jenis ini antara lain: menulis
cerita, menulis karangan, menulis laporan, menulis angket dan menulis puisi.
Drawing
activities dalam bahasa Indonesia dapat diartikan aktivitas
menggambar. Beberapa contoh aktivitas yang termasuk jenis ini antara lain: menggambar
peta, menggambar grafik, menggambar diagram dan menggambar peta konsep.
Motor
activities dalam bahasa Indonesia dapat diartikan aktivitas
motorik. Beberapa contoh aktivitas yang termasuk jenis ini antara lain: melakukan
percobaan, membuat konstruksi dan bermain.
Mental
activities dalam bahasa Indonesia dapat diartikan aktivitas
mental/rohani. Beberapa contoh aktivitas yang termasuk jenis ini antara lain:
menganalisis, mengingat dan memecahkan soal.
Emotional
activities dalam bahasa Indonesia dapat diartikan aktivitas
yang menggunakan emosi. Beberapa contoh aktivitas yang termasuk jenis ini
antara lain: merasa bosan, gembira, bersemangat, berani, tenang dan gugup.
Pada penelitian ini jenis aktivitas
belajar yang digunakan merupakan aktivitas yang sesuai dengan kerangka TANDUR
dalam model Quantum Teaching yaitu:
a) oral activities, b) motor activities dan c) writing activities. Untuk
lebih jelas perhatikan Tabel 2.3 berikut.
Tabel 2.3 Jenis aktivitas belajar olahan peneliti,
2016.
No.
|
Aktivitas
Belajar
|
Termasuk Jenis
Aktivitas
|
1
|
Menjawab
pertanyaan (T)
|
Oral
activities
|
2
|
Melakukan
permainan (A)
|
Motor
activities
|
3
|
Membuat bagan
(N)
|
Writing
activities
|
4
|
Menyanyikan
lagu (D)
|
Oral
activities
|
5
|
Mengerjakan
teka-teki silang (U)
|
Writing
activities
|
6
|
Mendapat
bintang prestasi (R)
|
Motor
activities
|
Sumber:
Jenis aktivitas belajar olahan peneliti, 2016.
D. Hasil Belajar
Menurut Sudjana (2012:22) hasil belajar
merupakan kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar.
Menurut Dimyati (2006:18) menyatakan bahwa hasil belajar adalah sesuatu yang
diperoleh siswa dari pengalaman atau latihan-latihan yang diikuti selama
pembelajaran yang berupa kognitif, afektif dan psikomotor.
Dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
merupakan kemampuan meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor yang diperoleh
siswa setelah ia menerima latihan dan pengalaman belajar. Untuk mengetahui
ketercapaian tujuan pembelajaran perlu diadakan evaluasi. Evaluasi merupakan
proses penilaian dengan menggunakan kriteria tertentu untuk mengetahui
ketercapaian tujuan pembelajaran.
Hasil evaluasi berfungsi untuk
mengetahui hasil belajar siswa yang dapat digunakan sebagai acuan untuk
perencanaan pembelajaran selanjutnya, dan menetapkan model pembelajaran
selanjutnya. Selain itu hasil evaluasi ini dapat digunakan untuk memperbaiki
serangkaian pembelajaran. Hasil belajar bisa ditingkatkan dengan berbagai macam
cara atau usaha-usaha guru yang maksimal. Salah satunya dengan pemilihan model
yang sesuai dengan karakteristik siswa dan pembelajaran.
Dalam penelitian ini, hasil belajar
siswa dilihat dari aspek kognitif. Dengan mengukur kemampuan kognitif siswa,
sudah diangggap bisa menggambarkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran PKn
materi organisasi pemerintahan pusat.
E. Penerapan Model Quantum Teaching pada Pembelajaran PKn untuk Meningkatkan Aktivitas
dan Hasil Belajar Siswa
Pada pembelajaran PKn akan diterapkan
model Quantum Teaching dengan
menggunakan kerangka TANDUR sebagai langkah-langkah dalam pembelajaran. Pada
siklus I, langkah yang pertama T = tumbuhkan diterapkan melalui pemberian
pertanyaan “Siapa yang ingin menjadi Presiden?” Langkah kedua A = alami
diterapkan melalui permainan kartu tugas pada materi tugas Presiden dan tugas
Wakil Presiden. Langkah ketiga N = namai diterapkan melalui bagan organisasi
pemerintahan pusat. Langkah keempat D = demonstrasi diterapkan dengan
menyanyikan lagu Nama Presiden RI. Langkah kelima U = ulangi diterapkan melalui
teka-teki silang untuk mengulangi pembelajaran PKn tentang tugas Presiden dan
tugas Wakil Presiden. Langkah keenam R = rayakan diterapkan melalui pemberian
bintang prestasi pada siswa yang aktif selama pembelajaran PKn.
Pada siklus II, langkah yang pertama T =
tumbuhkan diterapkan melalui pemberian pertanyaan “Siapa yang ingin menjadi
Menteri?” Langkah kedua A = alami diterapkan melalui permainan kartu menteri
pada materi pengelompokkan menteri. Langkah ketiga N = namai diterapkan pada
materi bagan kabinet kerja Joko Widodo-Jusuf Kalla. Langkah keempat D =
demonstrasi diterapkan melalui permainan tepuk menteri. Langkah kelima U =
ulangi diterapkan melalui teka-teki silang untuk mengulangi pembelajaran PKn
tentang menteri dan kabinet kerja Joko Widodo-Jusuf Kalla. Langkah keenam R =
rayakan diterapkan melalui pemberian bintang prestasi pada siswa yang aktif
selama pembelajaran PKn.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar